HET Pupuk Bersubsidi (per kg)

HET Pupuk Bersubsidi ( per Kg)
Urea........: Rp 1.800
SP-36......: Rp 2.000
ZA............: Rp 1.400
NPK.........: Rp 2.300
Organik...: Rp 500

Rabu, 23 Mei 2012

Perjalanan Perakitan dan Perkembangan VUB Padi

Sumber Gambar: http://wongtaniku.files.wordpress.com
Indonesia dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang sangat luas. Khusus untuk padi, Indonesia memiliki beberapa padi liar dengan keragaman spesies yang tinggi dan memiliki sekitar 17.000 asesi plasma nutfah. Keragaman spesies ini merupakan modal dasar yang sangat berharga untuk perakitan dan perbaikan varietas padi.
Dalam periode 1995-2003, Balitpa telah melepas sebanyak 57 VUB. Di antara VUB tersebut, termasuk Maro dan Rokan, yang merupakan padi hibrida dan Fatmawati, yang merupakan padi tipe baru. Padi hibrida dan tipe baru tersebut memiliki produktivitas 10- 20% lebih tinggi dari varietas yang dilepas sebelumnya.
Perjalanan perakitan dan perkembangan VUB padi di Indonesia dapat dibagi dalam tiga periode utama, yaitu periode sebelum tahun 1970, periode 1970-1984, dan periode 1984 atau periode pasca swasembada beras.
Periode sebelum 1970
Perakitan dan pengembangan VUB padi dimulai pada sekitar tahun 1920 (Harahap etal.1972). Pada masa itu hingga sekitar tahun 1960, perakitan dan pengembangan varietas padi diarahkan untuk memperoleh varietas yang mampu memanfaatkan air yang terbatas di lahan tadah hujan.
Varietas padi yang pertama dihasilkan adalah Bengawan, yang dilepas pada tahun 1943. Varietas ini merupakan perbaikan varietas Cina dali Cina, Latisail dari India, dan Benong dari Indonesia. Varietas Bengawan berumur 140-155 hari, memiliki tinggi 145-165 cm, memiliki rasa nasi enak, dan berdaya hasiI 3,5-4,0 t/ha. Beberapa varietas lain tipe Bengawan Sigadis (1953), Remaja (1954), Jelita (1955), Dara (1960), Sinta (1963), Dewi Tara (1964), Arimbi (1965), Bathara(1965), dan Dewi Ratih (1969). Pada periode ini juga diintroduksi dua varietas dari International Rice Research lnstitute (IRRI), yaitu PB-8 pada tahun (1967) dan PB-5 pada tahun 1968. Kedua varietas memiliki beberapa sifat penting, yaitu agak pendek (semi dwarf) sehingga tahan rebah, anakan banyak, responsif terhadap pupuk terutarna pupuk nitrogen, dan rnemiliki potensi hasil 4,5-5,5 t/ ha.
Periode 1970-1984
Pada periode ini perakitan dan pengembangan VUB padi makin diintensifkan. Perakitan dilaksanakan melalui kerjasama dengan lembaga-lembaga penelitian baik nasional maupun intemasional, seperli IRRI. Rasa nasi yang kurang enak yang dimiliki oleh PB-5 dan PB-8, menuntut perakitan varietas memperoleh \TUB yang juga memiliki rasa nasi enak seperti yang dimiliki oleh varietas-varietas padi sebelumnya. Kedua varietas diperbaiki dengan menyilangkan PB¬5 dengan Sintha yang menghasilkan Pelita 1-1 dan Pelita 1-2 yang dilepas pada tahun 1971. Kedua Pelita memiliki daya hasil yang tinggi dan rasa nasi yang lebih enak dibanding PB-5. Pelita 1-1 dan Pelita 1-2 disukai oleh sebagian besar petani Indonesia dan sempat mendominasi pertanaman lahan sawah di beberapa sentra produksi. Pertanaman monokultur dan terdiri dari varietas padi yang "ternyata" peka terhadap wereng coklat, memicu timbulnya hama wereng coklat (Nilaparvata lugens) yang sangat merusak dan merugikan. Pada waktu perakitan Pelita 1-1 dan Pelita 1-2, hama wereng coklat belum menjadi masalah pada tanaman padi dan varietas padi yang dirakit belum dirancang untuk tahan terhadap hama ini.
Sejak pengalaman itu program perakitan dan pengembangan varietas padi diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil tetapi juga untuk ketahanan terhadap hama dan penyakit utama. Untuk itu, maka selanjutnya dirakit dan dikembangkan sejumlah varietas baru seperti Serayu, Asahan, Brantas, dan, Citarum yang dilepas pada 1978; Semeru dan Cisadane pada 1980; Cipunagara dan Krueng Aceh pada (1981); Sadang pada 1983; dan Cikapundung pada 1984. Di antara varietas-varietas tersebut, Cisadane yang tahan wereng coklat biotipe 1 dan 2, merupakan varietas yang paling populer pada periode tersebut dan menjadi kontributor utarna bagi tercapainya swasembada beras pada tahun 1984. Namun kemudian, popularitas varietas Cisadane menurun tajam bersamaan dengan berkembangnya wereng coklat biotipe 3. Untuk mengatasi masalah ini dengan cepat dilakukan introduksi beberapa galur dari IRRI, dan satu di antaranya adalah IR-64, dilepas tahun 1986, di samping tahan terhadap wereng coklat biotipe 3, juga memiliki rasa nasi enak.
Periode Pasca Swasembada Berns, 1984
Sejak dilepas, IR-64 sangat cepat berkembang. \Tarietas ini merupakan varietas yang paling luas ditanam di Indonesia sempat mencapai luas 61,6% disusul oleh varietas lokal (10,3%), Memberamo (7,9%), Way Apoburu (8,3%), IR-66 (6,3%), dan Cisadane (5,7%). Walaupun makin menurun dan mulai digeser \TUB lainnya, tetapi sampai 2003 IR-64 masih mendominasi pertanaman padi di 12 propinsi penghasil utama padi dengan porsi 45,4% dari luas panen 9,2 juta hektar.
Upaya untuk meningkatkan potensi hasil didekati melalui pemanfaatan keunggulan heterosis dengan perakitan varietas padi hibrida dan pembentukan padi tipe baru (PTB). Berbagai varietas yang dilepas setelah IR-64 antara lain adalah Ciliwung dan Way Seputih yang dilepas pada 1989; Barumun, dilepas pada 1991; Memberamo, pada 1995, Way Apo Buru, pada 1998; Widas, pada 1999; Ciherang dan Tukad Unda, pada 2000; Konawe dan Sintanur (aromatik), pada 2001; Cimelati (semi PTB), Gilirang (semi PTB aromatik} , Maro (hibrida), dan Rokan (hibrida), pada 2002; dan Fatmawati (PTB), pada 2003.
Keragaan Beberapa Varietas Unggul di Lapangan
Penelitian di Sukamandi (MK 2002-MH 2002/03) menunjukkan beberapa varietas seperti VUTB Fatmawati, Gilirang, Ciherang, dan varietas hibrida Maro dan Rokan memberi hasil masing-masing 24,1%, 15,6%, 1,7%, 14,1%, dan 13,5 % lebih tinggi dibanding IR-64 (6,6 tJha). Sementara di petak demonstrasi pada MT 2003 di lahan petani di Takalar, Sulawesi Selatan, varietas Fatmawati, Gilirang, Ciherang, Cigeulis, Cisantana, Cimelati, dan hibrida Maro serta Rokan yang ditanam dengan pendekatan PTT masing-masing memberi hasil 31,2%, 12,9%, 15,9%, 12,9%, 2,5%, 8,3%, 24,1%, dan 20,9% lebih tinggi dibandingkan dengan Ciliwung (6,8 t/ha).
Dalam Program P3T di lahan petani di 28 lokasi pada MT 2002-03, VUB yang ditanam dengan pendekatan PTT memberikan hasil 9,8 - 3 4,3% lebih tinggi dibanding VUB yang sama yang ditanam secara non-PTT. Dari pengkajian ini terungkap varietas Ciherang, Way Apo Buru, Memberamo, Bondoyudo, Tukad Belian, Gilirang, Fatmawati, Rokan, Maro, Sintanur, Code, Batang Gadis, Towuti dan Cirata masing-masing mampu memberikan hasil 15; 14,4; 10,8; 17,3; 0,9; 12,5; 23; 33,3; 30,7; 11,2; 14,3; 17,4; 4,9; dan 2,9% lebih tinggi daripada IR64 yang memiliki produktivitas 6,8 t/ha. 
Sumber :Cyber Extension

1 komentar: